
Sejarah Perkembangan TIK di Indonesia: Dari Radio Kolonial hingga Era AI 2026
Sejarah Perkembangan TIK di Indonesia: Dari Radio Kolonial hingga Era AI 2026
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia mengalami perjalanan panjang yang penuh dinamika. Dari radio sederhana di masa kolonial hingga kecerdasan buatan (AI) dan jaringan 5G di tahun 2026, transformasi ini telah mengubah cara masyarakat bekerja, belajar, dan berbisnis.
Artikel ini membahas secara komprehensif perkembangan TIK di Indonesia berdasarkan periodisasi sejarah, dampak sosial, serta tantangan yang masih dihadapi hingga saat ini.
1. Masa Kolonial hingga Awal Kemerdekaan (1920-an – 1960-an)
Perjalanan TIK di Indonesia dimulai dari radio. Pada pertengahan 1920-an, pemerintah kolonial Belanda membangun stasiun radio di Batavia. Radio saat itu berfungsi sebagai alat komunikasi administratif dan propaganda.
Namun teknologi ini tidak hanya digunakan oleh kolonial. Dalam masa perjuangan kemerdekaan, radio menjadi media penting penyebaran informasi dan semangat nasionalisme. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, lahirlah Radio Republik Indonesia (RRI) pada 11 September 1945. RRI menjadi simbol kedaulatan informasi bangsa yang baru merdeka.
Pada era ini, sistem komunikasi masih bergantung pada:
- Telegraf
- Telepon kabel
- Surat kabar cetak
Radio menjadi lompatan besar karena mampu menjangkau masyarakat luas secara cepat tanpa harus menunggu distribusi fisik.
Dampaknya:
- Informasi nasional mulai menyatukan berbagai daerah.
- Kesadaran kebangsaan semakin kuat.
- Media elektronik pertama lahir di Indonesia.
2. Era Elektronik dan Telekomunikasi Nasional (1970-an – 1980-an)
Tonggak besar berikutnya terjadi pada 9 Juli 1976 ketika Indonesia meluncurkan Satelit Palapa A1. Peluncuran ini menandai berdirinya Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD), yang menjadikan Indonesia salah satu negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki satelit komunikasi sendiri.
Satelit Palapa memungkinkan:
- Siaran televisi menjangkau wilayah terpencil
- Komunikasi antar pulau lebih stabil
- Integrasi informasi nasional lebih cepat
TVRI sebenarnya sudah mengudara sejak 1962, namun keberadaan satelit membuat jangkauannya benar-benar berskala nasional.
Pada pertengahan 1980-an, telepon seluler generasi pertama (1G analog) mulai masuk ke Indonesia melalui jaringan Nordic Mobile Telephone (NMT). Ponsel saat itu:
- Berukuran besar
- Berat
- Harga sangat mahal
- Hanya dimiliki kalangan tertentu
Walaupun eksklusif, ini menjadi awal revolusi komunikasi mobile di Indonesia.
3. Masuknya Internet dan Digitalisasi Awal (1990-an – 2000-an)
Awal 1990-an menjadi era kelahiran internet Indonesia. Jaringan internet pertama berkembang dari komunitas akademisi seperti Universitas Indonesia, ITB, dan UGM. Sistem ini lebih bersifat kolaboratif dan dikenal sebagai jaringan paguyuban.
Sekitar pertengahan 1990-an, penyedia layanan internet (ISP) mulai beroperasi secara komersial. Masyarakat mengenal internet melalui koneksi dial-up dengan modem yang terhubung ke telepon rumah.
Ciri khas era ini:
- Kecepatan lambat
- Biaya mahal
- Koneksi sering terputus
- Akses terbatas di kota besar
Memasuki akhir 1990-an hingga awal 2000-an, SMS menjadi fenomena besar. Telepon seluler semakin populer dan BlackBerry sempat menjadi simbol status sosial. Indonesia bahkan pernah menjadi salah satu pasar BlackBerry terbesar di dunia.
Tahun 2006, hadirnya jaringan 3G menjadi titik penting karena internet mobile mulai nyaman digunakan untuk browsing dan media sosial.
Dampak era ini:
- Munculnya warnet (warung internet)
- Lahirnya forum online lokal
- E-commerce generasi awal
- Komunitas digital mulai terbentuk
4. Era Smartphone dan Broadband (2010-an – 2020-an)
Memasuki 2010-an, smartphone Android dengan harga terjangkau membanjiri pasar Indonesia. Kombinasi perangkat murah dan jaringan 4G LTE (mulai luas sekitar 2014) mempercepat adopsi internet mobile.
Indonesia kemudian menjadi salah satu pasar smartphone terbesar di dunia.
Perubahan signifikan di era ini:
- Media sosial mendominasi komunikasi
- Marketplace tumbuh pesat
- Transportasi online berkembang
- Layanan digital perbankan meningkat
Pandemi COVID-19 pada 2020 mempercepat transformasi digital. Aktivitas seperti:
- Belajar online
- Work from home
- Meeting virtual
- Belanja online
menjadi kebutuhan utama, bukan lagi pilihan.
5. Era 5G dan Kecerdasan Buatan (2020-an – 2026)
Memasuki pertengahan 2020-an, jaringan 5G mulai tersedia di kota-kota besar. Kecepatan internet meningkat drastis dengan latensi rendah.
Teknologi AI mulai masuk ke berbagai sektor:
- Perbankan menggunakan chatbot pintar
- Pendidikan memakai sistem pembelajaran adaptif
- UMKM memanfaatkan AI untuk promosi dan analisis pasar
- Industri kreatif memakai generative AI untuk desain dan konten
Pemerintah juga mulai mengembangkan Strategi Nasional AI 2020–2045 untuk mendorong inovasi dan daya saing global.
Indonesia termasuk negara dengan pertumbuhan pengguna aplikasi AI tercepat dalam beberapa tahun terakhir.
Dampak Transformasi TIK bagi Masyarakat
Perkembangan TIK mengubah kehidupan masyarakat secara drastis.
Dulu:
- Informasi datang dari surat kabar atau radio
- Komunikasi butuh waktu lama
- Transaksi masih tunai
Sekarang:
- Informasi real-time di smartphone
- Transaksi digital meningkat tajam
- UMKM bisa menjual produk ke seluruh Indonesia
Di daerah seperti Kudus dan kota-kota menengah lainnya, pelaku usaha kecil kini bisa:
- Promosi lewat media sosial
- Jualan lewat marketplace
- Gunakan QRIS untuk pembayaran
Ekonomi digital Indonesia tumbuh signifikan setiap tahun, menjadikannya salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski perkembangan pesat, beberapa tantangan tetap ada:
- Kesenjangan digital antara kota dan desa
- Keamanan data dan ancaman siber
- Literasi digital masyarakat
- Etika penggunaan AI
- Perlindungan privasi pengguna
Tanpa regulasi dan edukasi yang baik, teknologi bisa menimbulkan masalah baru.
Kesimpulan
Perjalanan TIK di Indonesia menunjukkan transformasi luar biasa dalam satu abad terakhir. Dari radio kolonial hingga kecerdasan buatan dan 5G, setiap era membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Teknologi bukan sekadar alat komunikasi, tetapi fondasi pembangunan bangsa.
Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi soal akses teknologi, melainkan bagaimana memastikan teknologi digunakan secara bijak, inklusif, dan berkelanjutan untuk seluruh masyarakat Indonesia.
Jemi Oktavian
Full Stack Developer